Saya jadi teringat dengan guru-guru yang mengajarkan pelajaran produktif Geologi Pertambangan dahulu. Guru-guru hebat kami, guru tercinta kami dan guru yang tidak akan pernah kami lupakan sedikitpun.

Guru tercinta kami yang mengajar hanya sampai kelas 2 saja karena beliau menikah dan ikut suaminya yang notabene seorang manajer perusahaan batubara di daerah Kalimantan. Beliau adalah Ibu Amalia Suciati atau yang biasa kami panggil dengan sebuatan Bu Uchi. Bu Uchi ini berasal dari Jogja. Perawakannya kecil, tidak terlalu tinggi namun energik dan penuh semangat. Waktu itu beliau masih berumur sekitar 24 atau 25 tahun, alhasil beliau adalah guru termuda dan tercantik di SMKN 4 Bojonegoro. Kami sangat senang sekali, karena gaya mengajar beliau memang kelihatan sekali gaya seorang remaja. Beliau sangat dekat dengan para siswanya, tidak pilih kasih dan sangat enak dalam menyampaikan mata pelajaran. Seingat saya beliau dulu mengajar kami materi Gambar Teknik dan juga Pemetaan Topografi. Kami juga diajak mendapat kesempatan untuk mengikuti KIR(Karya Ilmiah Remaja) bersama beliau dengan mengangkat tema “Pemetaan Sumber Air Tanah” dan alhamdulillah dapat juara harapan kalau tidka salah. Sosok Bu Uchi selalu dapat memberikan semangat kepada kami dalam mencintai pelajaran Geologi ini. Beliau sudah mengajarkan banyak hal kepada kami. Mulai dari kecerdasan, keuletan, ketelatenan dan juga kesabaran dalam mengerjakan tiap-tiap tugas yang diberikan yang memang sangat memusingkan kepala. Beliau juga yang telah berjanji kepada kami semua bahwa akan menunggu kami di Kalimantan untuk bergabung bersama beliau. Ya, itu bisa menjadi spirit bagi kami semua. Aku masih ingat waktu perpisahan dengan beliau, kami sekelas menangis semua tanpa terkecuali, ini membuktikan kecintaan kami kepada beliau, kami merasa berat ditinggalkan Bu Uchi, kami akan selalu merindukannya di kemudian hari. Hari-hari pun telah berganti, tahun berganti tahun, sekarang kami telah lulus satu setengah tahun yang lalu. Sebagian dari kami ada yang bekerja di tambang Nikel di Kalimantan dan Bangka Belitung, lainnya ada yang melanjutkan kuliah di ITATS Surabaya dan UPN Veteran Jogja dan saya sendiri sekarang sedang menjalani masa kuliah di STKS Bandung. Bu Uchi masih di sana, di Kalimantan. Kami semua berharap bisa mengadakan reuni bersama beliau, bercerita dan berbagi pengalaman selama ini.

Guru kedua yang dekat di hati kami, para anak GP adalah Pak Erick, nama lengkap beliau adalah Erick Firdaus. Beliau adalah lulusan dari ITB Bandung, seorang yang cerdas. Perawakan beliau tinggi besar, berbadan atletis. Pak Erick bekerja di lingkungan PEMDA Bojonegoro bidang Geologi dan Pertambangan. Yang selalu kami ingat adalah, Pak Erick ini sangat suka sekali memberikan ocehan(baca:petuah) di saat sela-sela pelajaran. Tentu bagi sebagian teman-teman ada yang sampai bosan dan ngantuk, namun bagi saya omongan-omongan Pak Erick ini sangat patut kita simak. Pembicaraan beliau adalah gabungan antara pengalaman saat kuliah dan praktek di lapangan dalam kehidupan nyata. Pak Erick ini orangnya supel sekali, mudah beradaptasi dengan siapa saja, suka bercanda namun tahu tempat. Beliau mengajar kami mulai dari kelas I hingga kelas III. Secara tidak sadar, ternyata beliau sudah melekat di hati kami, apalagi sudah selama tiga tahun beliau mengajar. Saat menjelang kelulusan pun beliau tidak ada lelahnya untuk memberikan petuah-petuah yang agar dapat dijadikan kami pegangan di dunia luar nanti. Dunia luar itu tidak seindah yang kita bayangkan, kita harus berjuang keras untuk dapat bertahan. Pak Erick, guru laki-laki teladan versi anak GP.